Back

Kurs Rupiah Indonesia Masih Lemah Jelang Libur Idul Fitri, Tertahan di Dekat 16.600 per Dolar AS

  • Rupiah Indonesia (IDR) belum mampu bangkit di 16.600-an, meskipun BI turun tangan.
  • Dolar AS sedikit melemah, tetapi nerbagai faktor internal dan eksternal terus membayangi dan menekan Rupiah Indonesia.
  • Tarif Trump masih menjadi momok utama atas ketidakpastian yang terjadi di pasar global.

Di akhir perdagangan pasar keuangan Indonesia pada hari Rabu, Rupiah Indonesia (IDR) masih bergulat di sekitar level 16.600-an terhadap Dolar AS (USD) menjelang libur panjang Idul Fitri. Rupiah sempat menguat hingga ke 16.508 pagi tadi, terdorong oleh intervensi yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) kemarin. Pasangan mata uang USD/IDR telah membalikkan semua pelemahannya dari tahun lalu, melampaui level tertinggi bulan Juni di 16.517, menguat sebanyak 4,70% dalam setahun.

Bank sentral Indonesia telah melakukan intervensi di pasar mata uang untuk mempertahankan Kurs Rupiah pada hari Selasa, karena meningkatnya kekhawatiran atas politik, belanja pemerintah dan pelarian modal mendorong Rupiah ke tingkat terendah sejak krisis keuangan Asia.

Analis valas OCBC, Frances Cheung dan Christopher Wong, memprakirakan tekanan dalam waktu dekat bagi beberapa mata uang Asia, termasuk KRW, JPY, CNH, MYR, IDR, dan THB. Rupiah sendiri menunjukkan performa yang kurang menggembirakan, terutama akibat kombinasi berbagai faktor domestik dan eksternal yang tidak mendukung.

Dari sisi fundamental, kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal, defisit neraca berjalan yang tak terduga, serta pelemahan ekonomi menjadi beban utama bagi Rupiah. Selain itu, meningkatnya spekulasi bahwa Bank Indonesia mungkin akan segera melonggarkan kebijakan moneternya semakin menekan mata uang Garuda ini.

Di sisi lain, kondisi global juga kurang bersahabat. Faktor eksternal yang tidak menguntungkan, seperti ketidakpastian kebijakan moneter global dan dinamika pasar keuangan internasional, semakin memperberat tekanan pada Rupiah, membuatnya sulit untuk bangkit dalam waktu dekat.

Rupiah diprakirakan tetap melemah menjelang libur panjang Idul Fitri selama 11 hari yang dimulai akhir pekan ini, menurut ekonom SMBC Ryota Abe. Ia menambahkan, prospek ekonomi bisa tetap suram jika Bank Indonesia (BI) terus mempertahankan suku bunga tinggi demi stabilitas mata uang.

Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di 5,75% pada pertemuan Februari, dengan fokus menjaga Rupiah sambil menunggu waktu yang tepat untuk melakukan pemangkasan. Sementara itu, Ketua Umum Serikat Pengusaha Indonesia, Shinta Kamdani, mengatakan kepada Reuters bahwa pelaku usaha telah merespons pelemahan Rupiah sejak akhir tahun lalu dengan memperketat impor material.

Di sisi lawan, Dolar AS kembali mengalami aksi jual pada hari Selasa, membuat Indeks Dolar AS (DXY) menguji level support penting di 104,00. Pelemahan ini dipicu oleh turunnya sentimen konsumen AS pada bulan Maret, dengan Indeks Keyakinan Konsumen Conference Board merosot dari 98,3 menjadi 92,9, yang terlemah sejak Februari 2021.

Penilaian bisnis dan pasar tenaga kerja juga memburuk, dengan Indeks Situasi Saat Ini turun 3,6 poin ke 134,5. Indeks Ekspektasi anjlok 9,6 poin ke 65,2, level terendah dalam 12 tahun, di bawah ambang batas 80 yang sering dikaitkan dengan potensi terjadinya resesi.

Selain itu, Dolar AS juga mengalami tekanan setelah Presiden Donald Trump mengisyaratkan bahwa tidak semua tarif yang direncanakan akan diberlakukan pada 2 April. Dalam pernyataannya di Gedung Putih pada hari Senin, Trump mengindikasikan kemungkinan untuk memberikan keringanan tarif kepada "banyak negara," menandakan adanya kesepakatan dengan beberapa mitra dagang utama. Meskipun perang dagang yang digagas Trump dikhawatirkan memperlambat ekonomi global, pembatasan tarif pada lebih sedikit negara dapat meredam dampaknya. Namun, langkah ini justru mengurangi daya tarik Dolar AS di pasar keuangan.

Tak hanya itu, Trump juga memberlakukan "tarif sekunder" sebesar 25% terhadap barang-barang dari negara yang masih membeli minyak dari Venezuela, meningkatkan ketegangan geopolitik. Selain itu, bocornya percakapan Wakil Presiden AS, JD Vance di Signal yang berisi pandangannya mengenai Eropa. Bocoran ini memicu spekulasi mengenai potensi gesekan dalam pemerintahan Trump, memperburuk sentimen pasar terhadap Greenback.

Pada perdagangan hari Rabu ini, data Pesanan Barang Tahan Lama AS dan sejumlah pidato dari beberapa pejabat The Fed akan dicermati. Menjelang akhir pekan, di hari Jumat, data penting Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditure/PCE) AS berpotensi menggerakkan USD yang berdampak pada arah perdagangan USD/IDR lebih lanjut.

Pertanyaan Umum Seputar Tarif

Meskipun tarif dan pajak keduanya menghasilkan pendapatan pemerintah untuk mendanai barang dan jasa publik, keduanya memiliki beberapa perbedaan. Tarif dibayar di muka di pelabuhan masuk, sementara pajak dibayar pada saat pembelian. Pajak dikenakan pada wajib pajak individu dan perusahaan, sementara tarif dibayar oleh importir.

Ada dua pandangan di kalangan ekonom mengenai penggunaan tarif. Sementara beberapa berpendapat bahwa tarif diperlukan untuk melindungi industri domestik dan mengatasi ketidakseimbangan perdagangan, yang lain melihatnya sebagai alat yang merugikan yang dapat berpotensi mendorong harga lebih tinggi dalam jangka panjang dan menyebabkan perang dagang yang merusak dengan mendorong tarif balas-membalas.

Selama menjelang pemilihan presiden pada November 2024, Donald Trump menegaskan bahwa ia berniat menggunakan tarif untuk mendukung perekonomian AS dan produsen Amerika. Pada tahun 2024, Meksiko, Tiongkok, dan Kanada menyumbang 42% dari total impor AS. Dalam periode ini, Meksiko menonjol sebagai eksportir teratas dengan $466,6 miliar, menurut Biro Sensus AS. Oleh karena itu, Trump ingin fokus pada ketiga negara ini saat memberlakukan tarif. Ia juga berencana menggunakan pendapatan yang dihasilkan melalui tarif untuk menurunkan pajak penghasilan pribadi.

 

GBP: Kebijakan Fiskal yang Lebih Ketat, Kebijakan Moneter yang Lebih Longgar akan Memukul Sterling – ING

Kanselir Inggris, Rachel Reeves, menyampaikan Pernyataan Musim Semi selama 30 menit pada pukul 13.00 CET
Baca selengkapnya Previous

Prakiraan Harga NZD/USD: Naik di Atas 0,5700, EMA Sembilan Hari di Tengah Bias Bullish yang Diperbarui

NZD/USD melanjutkan momentum kenaikannya selama dua hari berturut-turut, bergerak di sekitar 0,5750 selama jam perdagangan Eropa pada hari Rabu
Baca selengkapnya Next